Oleh: nariswari | 5 Juli 2009

Manusia Super

Berapa juta orang sih, di dunia ini yang hidupnya mulus, bak jalan tol Jagorawi?  Tidak ada masalah sebenarnya dengan problem di dalam kehidupan, yang terpenting adalah cara kita menyikapi lika liku hidup dengan bijaksana.

 Sedari malam mata saya sulit sekali terpejam. Bukan karena mikirin tagihan yang menumpuk, atau kangen mikirin wajah pasangan yang ganteng. (ehem..ehem…kapan lagi mau ngebanggain pasangan di area publik, Jeng…) Tapi alam pikiran saya menerawang, lantaran memikirkan tayangan Kick Andy tadi malam (4/7) yang menyoal “Bangkit Dari Keterpurukan”. Tema yang kuat, dikemas dengan penyajian yang menarik dan tidak “boring”, menjadikan acara ini menjadi sangat berkesan, hingga saya terngiang-ngiang menjelang tidur. Di acara tersebut, dihadirkan para narasumber yang pernah mengalami keterpurukan dan masa lalu yang suram. Problem yang dihadapi mereka tidaklah ringan. Mulai dari pelecehan, depresi,  hingga melahirkan anak karena diperkosa.

 “Pernah saya ingin mengakhiri hidup. Menyelesaikan persoalan dengan instant. Terbebas dari semua kerumitan, aib, dan hilangnya harga diri saya karena hadirnya janin pemerkosa di rahim saya… tapi saya harus bangkit…” Ujar Yusti, salah seorang narasumber di acara tersebut.

 Yang luar biasa di tayangan ini adalah potret manusia-manusia yang super tegar dalam menjalani hidup mereka yang berat. Ketegaran itulah yang (harus kita akui bersama) tidak selalu kita miliki.

 Dan di saat terbelenggu di dalam masalah dan dapat menemukan jalan keluar, sering manusia terlarut dalam kemurungan yang menghanyutkannya ke lembah depresi yang semakin dalam.

Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat, berawal dari stres yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh ke fase depresi. Penyakit ini kerap diabaikan karena dianggap bisa hilang sendiri tanpa pengobatan. Padahal, depresi yang tidak diterapi dengan baik bisa berakhir dengan bunuh diri. Anda ingat berapa orang yang bunuh diri setelah perusahaannya dinyatakan bangkrut saat krisis ekonomi melanda dunia? Atau anda ingat berapa caleg (calon legislatif) yang berusaha bunuh diri saat dinyatakan oleh KPU tidak lolos?. Secara global 56 % dari penderita depresi berpikiran untuk bunuh diri, tetapi yang akhirnya mengakhiri hidupnya “hanya” 17 %. Selain itu, depresi yang berat juga menimbulkan munculnya berbagai penyakit fisik, seperti gangguan pencernaan (gastritis), insomnia (gangguan tidur), asma, gangguan pada pembuluh darah (kardiovaskular), serta menurunkan produktivitas.

Orang yang mengalami depresi adalah orang yang amat menderita. Menurut seorang ilmuwan terkemuka yaitu Rice, P. L. (1992), depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya, kemuraman hati (kepedihan, kesenduan, keburaman perasaan) dan kehilangan harapan. Depresi ditandai dengan perasaan sedih yang psikopatologis, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata sesudah bekerja sedikit saja, dan berkurangnya aktivitas.

Maka tidak berlebihan bukan, jika saya pada awal tulisan mengatakan bahwa orang-orang yang berhasil menghadapi masalah mereka yang berat, adalah manusia super tegar?

Seketika itulah saya merasa malu pada diri sendiri. Sekuat apakah diri saya dalam menghadapi tiap cobaan yang menempa? Tegarkah saya? Ataukah saya akan berlari kencang ke ketiak orang tua atau pasangan saya untuk meminta perlindungan ekstra?  Bahkan menangis, dan mulai berfikir…berapa ya, harga tali rafiah di toko material sebelah?

Well, kali ini saya berkeliling kota dan membaca carut marut Indonesia dari kaca buram bus kota yang saya tumpangi. Wajah-wajah kuat yang menjajakan asongan, koran dan ojek sepeda. Tak hentinya mereka meniti hidup yang kian sulit, dengan penuh semangat dan hati yang tegar.

Duuuh Jeng, sepertinya kita membutuhkan lebih banyak manusia super tegar yang hidup di negara ini. Yang tahan akan beban penderitaan, tekanan hidup karena ekonomi, dan belum lagi penindasan dari penguasa..

With Love,

 

Nariswari

Tulisan Sebelumnya »

Kategori