Oleh: nariswari | 2 Oktober 2009

Aroma Kampung di Pasar Jumat

Bulan belum penuh menempati bingkai malam. Jarum di arloji saya bergerak lambat ke angka tujuh. Kemacetan panjang dan hiruk pikuk lalu lintas di sepanjang daerah Pasar Jumat- Jakarta Selatan, sudah begitu saya hafal.

Malam ini adalah malam yang kesekian ratus (bahkan ribu…) kalinya saya dan pasangan melewati ruas jalan yang sibuk ini.

Fisik yang lelah, ditambah perut yang lapar, memicu indera penciuman saya menjadi lebih peka. Saat kaki kami melintasi jalan Pasar Jumat 200 m terusan ke arah Pamulang, aroma semur jengkol menyergap hidung saya. Datang dari mana gerangan “racun nikmat” ini?

Ternyata adalah warung nasi uduk khas Betawi milik Nyi Omah. Letaknya di pinggir jalan persis, dengan tenda yang sederhana. Tapi nanti dulu, lihatlah betapa banyak pengunjungnya. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja kantoran, dan mahasiswa. Berjejer motor dan mobil parkir semena-mena di sepanjang tenda Nyi Omah. Sekarang tidak hanya indera penciuman saya yang dinganggu. Tapi rasa penasaran menggelayuti hati saya.

Sekitar seperempat jam lamanya saya dan pasangan  menyabar-nyabarkan diri untuk mendapatkan tempat duduk. Setelah menempati posisi duduk yang nyaman, kami ditawari menu : nasi uduk atau ketupat sayur. Kami memilih nasi uduk.

Di depan kami terhidang beragam lauk yang kami pilih sesukanya. Mulai dari sate hati ampela, ayam goreng, bandeng goreng, tongkol pedas, perkedel, aneka gorengan seperti tahu dan tempe tepung, dan lauk lainnya. Tidak ketinggalan sambal yang digoreng tanak, dan semur jengkol khas Betawi. Hmmm…ini dia!

Nasi uduk dihidangkan di piring beling, dengan taburan bawang goreng. Nasinya tidak terlalu putih dan bersih. Maklum, nasi uduk Betawi memang banyak memakai rempah, berbeda dengan nasi uduk biasa yang hanya mengandalkan gurihnya santan dan daun salam. Dari aromanya, nasi uduk Betawi ini diperkuat dengan sereh, salam, santan, dan bumbu-bumbu dapur.

Saya langsung memilih kuah semur jengkol , dan tongkol pedas sebagai padanan makan saya. Di suapan pertama, sensasi saya langsung melambung ke nuansa kampung. Betul-betul kampung. Seketika saya meninggalkan semua atribut saya, tentang kerjaan kantor, rutinitas, everything. Yang tergambar hanyalah kampung yang terpencil, damai, dan begitu..harum jengkolnya.

Anak Nyi Omah menyiapkan teh tubruk panas sebagai pelengkap. Kuatnya aroma jengkol, seakan begitu serasi saat ujung lidah kita mencecap teh panas. Aroma teh tubruk, memang sangat khas. Kuat, kental, dan menjanjikan “addict” untuk kita menyeruput lagi.

Meski keinginan kami ingin berlama-lama duduk di tenda, naluri kami berkata lain. Sudah tiga pasang mata menatap kami, menunggu kami berdiri, berganti duduk dengan mereka. Ha ha ha ha ha..

Bergegas kami mengeluarkan selembar uang Rp.50.000. Dikembalikannya uang kami Rp.35.000. Hanya dengan uang Rp.15.000, Anda bisa makan kenyang dan puas. Mencicipi aroma “kampung” yang kadang kita rindukan. Menjadikannya referensi menarik untuk dibagi pada sisi kehidupan kekinian.

(Nariswari / dari berbagai sumber)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori