Oleh: nariswari | 2 Mei 2008

Bersabar

Jika saya mengangkat tajuk seperti ini, saya yakin Anda pernah melakukannya lebih baik daripada saya. Terlepas dari keinginan dan ego saya untuk merasa “lebih daripada orang lain, tapi panggilan jiwa untuk bersabar sepertinya masih sering terkendala.
Suatu hal yang entah dapat membuat saya senang atau tidak (karena saya merasa memiliki teman) bahwa saya menemukan ternyata begitu banyak orang yang tidak cukup bersabar untuk hal apapun.
Suatu kali, saat saya berkendara motor dengan ayah saya, ada seorang pengendara motor lain yang terus-terusan ingin menyalip kami, bahkan dari lajur kanan. Kami mengalah dengan pertimbangan bahwa kami bukan di Sentul.Setelah meng-gas motornya sampai mengebul seperti tukang sate, dia pun berhasil melewati kami. Ternyata tak lama setelah menyalip kami, dia berbelok ke pinggir jalan untuk membeli martabak. Ya ampuuuuun…sebegitu laparkah orang itu, sampai mengendalikan motornya dengan ugal-ugalan hanya untuk membeli seloyang martabak?
Tapi itulah faktanya.
Dan sering sekali saya menemukan “keganjilan-keganjilan” macam ini. Well, terlepas dari itu semua, manusia memang unik bukan?

Suatu kali saya dengan pasangan saya makan siang di warung makan “DAPUR MAMA” di kawasan pertokoan Pamulang. Berdasarkan daftar menu yang rapi dilaminating, kami memesan 2 porsi sop iga seharga @Rp.8.000, 2 porsi nasi putih @Rp.2.000, 1 es tawar Rp1.000, es teh tawar Rp.2.000.
Setelah hitung punya hitung, kami dapat memeperkirakan membayar senilai Rp.23.000.
Ternyata meleset. Si pelayan menagih pada kami Rp.25.000.
Saya yang penasaran dengan kritis menanyakan tentang selisih Rp.2.000 tersebut.
Dengan entengnya, si pelayan menyahut “Harga nasinya bukan 2000, tapi 3000…”
Lalu saya mempertanyakan harga yang tidak sesuai yang tercantum dalam daftar menu.
Dengan seenaknya dia kembali menukas, ” Belom diganti…”
Karena malas berdebat, kami pun meninggalkan “arena” tersebut.
Bukan masalah Rp.2.000-nya yang saya permasalahkan.
Tapi saya betul-betul merasa ditipu. Dan Anda tahu? Ditipu itu menyakitkan sekali.
Praktis hari itu makan bukan jadi daging, tapi malah jadi pikiran.
Lagi-lagi saya dituntut untuk menebalkan kesabaran diri saya untuk menyikapi hal tersebut.

Jika Anda perhatikan, banyak sekali hal-hal yang menguji kesabaran kita.
Mulai dari lingkungan terdekat seperti pasangan, keluarga, relasi di kantor, atasan, tukang parkir, tukang gorengan, dan lain-lain.
Kali ini ujian bersabar saya bermula dari seorang ibu muda yang sama sekali tidak saya kenal, di sebuah department store.
Saat saya berbelanja di sebuah department store, ada seorang ibu-ibu yang menyelak saya. Dengan tenangnya, si ibu meletakkan sekaleng susu kental manis dan pasta gigi di depan teller. Saya yang terhenyak, lantas berkomentar,”Ibu, tolong antri di belakang.”
Masih dengan sikap tenangnya (saya curiga ada klep yang lepas di otaknya…)si ibu menjawab, “Gak apa-apalah ya. Belanjaan saya sedikit ini..”
Dengan sikap positif, saya menyilakan si ibu bertransaksi mendahului saya. Saya pikir, mungkin si ibu sedang terburu-buru dikejar waktu.
Ternyata pikiran saya dengan mudahnya dijungkirbalikkan. Ternyata setelah si ibu bertransaksi di teller, dia langsung menuju ke stand kosmetik. DEngan tawa cekikikan, sibuk dia memilih-milih cat kuku dan lipstick dibantu oleh SPG.
Lantas, apa motivasi orang-orang itu bergegas-gegas bahkan menyalip orang lain?
Doesn`t make any sense kan?
Hanya satu jawabannya.
Ego.
Mereka memiliki tingkat ego yang besar sekali di dalam diri mereka, yang kemudian mendorong mereka untuk melakukan hal yang “lebih” dari orang lain. Seperti lebih cepat sampai, lebih cepat dilayani, lebih ini, lebih itu, dan lain-lain.
Adalah suatu hal yang manusiawi dari sifat asli manusia, bahwa mereka selalu ingin merasa “lebih” daripada manusia yang lain. Tetapi menjadi suatu hal yang kurang bijaksana pada saat melampiaskan “sifat asli ke-manusia-annya” tersebut dengan usaha yang justru merugikan atau mengganggu orang lain. Justru menjadi tidak asyik bukan?
Jika membahas tentang ego dan kawan-kawannya, saya selalu membuat catatan kecil dalam hati tentang arti pentingnya bersabar.
(Aduuh Jeng, haree genee masih mau nyabar? Lewaaat..)

Ada satu filosofi kesabaran yang bagus yang saya baca dari sebuah buku yang ditulis oleh Abdulaziz Salim Basyarahl.
Apakah Anda pernah menyaksikan seorang pemecah batu yang sedang memecahkan batu besar?
Dia memukul batu itu dengan palu godam-nya sampai ratusan kali tanpa terlihat tanda-tanda akan pecahnya batu tersebut.
Kian lama, akhirnya batu besar itu pun pecah.
Pecahnya batu itu bukan disebabkan oleh pukulan terakhir, akan tetapi oleh keseluruhan ratusan pukulan yang sebelumnya.

Banyak sekali “batu-batu besar” di dalam hidup kita. Tentang kaitannya dengan masalah, kemarahan, keputusasaan, kekecewaan itu merupakan “batu-batu besar” yang harus kita pecahkan dengan “palu godam kesabaran” kita.
Awalnya, saya sulit sekali menebalkan kesabaran saya. Saya mudah sekali berkonfrontasi dengan orang lain. Bahkan untuk hal sepele sekalipun. Contohnya dulu, sewaktu saya duduk di bangku SMA, saya menghardik penumpang bapak-bapak saat beliau merokok di dalam angkot yang kami tumpangi.
Pada saat itu, saya belum mampu “memecahkan batu besar”.
Fikiran dan hati saya masih penuh dengan gejolak amarah, sehingga “palu godam kesabaran” itu pun semakin tipis.

Ada bebrapa hal yang dapat saya petik dari secuil kata bersabar:
Bahwa bersabar bukanlah mengalah.
Bahwa bersabar meninggikan kualitas psikologis kita.
Bahwa bersabar membantu kematangan jiwa kita.
Bahwa bersabar berarti mempersilakan diri kita untuk berusaha mengerti dan peka akan lingkungan sekitar kita.
Bahwa bersabar membuka diri kita untuk mendapatkan satu poin kemenangan kecil di hari itu.

Dan bahwa dengan bersabar berarti kita yakin, mampu memecahkan “batu-batu besar” dalam hati kita.
Maka hari ini senyumlah dan tarik nafas yang panjang.
Bersabar memang berat…

With Love,

Nariswari


Beri tanggapan

Your response:

Kategori