Oleh: nariswari | 15 Agustus 2008

Ring…Ring…Pilih Yang Mana?

Setelah sekian lama saya bekerja di salah satu media selular, saya makin tertarik dengan pola dan gaya hidup masyarakat Indonesia yang pada gilirannya merupakan pasar potensial bagi banyak vendor dan produsen ponsel dalam dan luar negeri.

Beberapa kali naluri saya tergelitik untuk bertanya kepada teman-teman saya yang sering bergonta-ganti ponsel. Apa yang mereka cari? Ataukah produk yang diiklankan dan kemudian mereka beli, tidak sesuai dengan harapan yang sesungguhnya?

Fungsi VS Estetik
Well, jawabannya beragam, dan bahkan beberapa di antaranya agak mengejutkan. Untuk kebanyakan teman-teman pria, menilai ponsel dari sisi fungsional, mencakup di dalamnya adalah keunggulan ponsel itu sendiri dalam mengakomodir segala kebutuhan yang diinginkannya.

Apakah dari segi multimedia, dari koneksitas dan jaringan ponsel itu sendiri, apakah didukung oleh jaringan dualband, triband ataupun sudah quadband. Multimedia juga setali tiga uang, kebanyakan teman pria saya menilai ponsel yang oke ditunjang pula oleh multimedia yang mutakhir.

Taruhlah misalnya dengan ditanamnya fasilitas WAP, GPRS, Opera, yang tidak hanya sekedar Class 10.

Berbeda dengan teman-teman wanita saya yang menilai ponsel dari model dan keindahan display-nya. Ada yang menyukai ponsel tipis seperti Motorola Razor. Tapi ada juga yang kecentilan mengonta-ganti warna casing ponsel seperti di Nokia Express On Color. Saya ternyata, memiliki selera yang berbeda dengan teman-teman saya. “Ya…iyalah Bo. Gila aja, hari gini masih pake analog. Itu sih bukan karena selera, tapi karena terpaksa…” Tukas salah satu kawan saya, saat saya mengeluarkan Nokia angkatan pertama saya.

Terlepas dari “keterpaksaan” saya tadi, ternyata saya lebih memilih ponsel yang gaya dari display-nya. Yang penting enak untuk digenggam, tidak licin, keypad-nya empuk, dan layarnya tidak bikin sakit mata. Membahas masalah estetik, pilihan saya jatuh ke Samsung. Aduuh…nggak tahu ya, sejak dulu (lebih tepatnya, sejak saya pernah dihadiahi Samsung oleh saudara ipar saya) model Samsung yang kebanyakan flip, langsung membuat saya jatuh hati. Pas di genggaman, dan flip-nya itu tadi. Serasa tekno banget, saat kita action menelepon. Tapi di satu sisi, saya paling senang mendengarkan radio (entah kutukan, atau pengaruh usia…). Untuk sekedar mendengar berita metro, talkshow lucu yang tidak mendidik, ataupun mendengar lagu favorit. Unfortunatelly, Sony Ericsson-lah yang berhasil mem-fasilitasi hal tersebut. Bahkan kini dengan jargon Sony Ericsson Walkman, Anda dijamin terpuaskan mendengar musik. Dari fitur Shake Control, SensMe, Walkman Player, Track ID, dan T9, ditambah dengan kapasitas memori hingga 8Gb, kurang apa coba? Toh sampai kini saya belum bisa menentukan what kind of choice orang dalam memilih ponsel. Apakah dari segi estetik, ataupun dari fungsional .

Revolusi Besar-besaran
Percayakah Anda, jika saya katakan bahwa terjadi revolusi yang cukup besar dalam media berkomunikasi kita? Let`s browse, dan buktikan kata-kata saya tadi. Bahkan, jika Anda tengok ke Google, di sana telah ada beberapa komunitas BlackBerry seperti salah satunya adalah Indonesia-Blackberry@yahoogroup.com dan tidak tanggung-tanggung, mereka membentuk milis sendiri di BB-OOT@yahoogroup.com. Ini mencerminkan bahwa peran ponsel dalam menunjang kinerja dan kehidupan manusia kini amat besar.

Tidak seperti sepuluh tahun sebelumnya, ponsel dinilai sebagai barang mewah yang amat besar fungsinya menggantikan telepon rumah, bisa dibawa kemana-mana walau sebesar ulekan pun.

Transformasi ponsel ini terasa betul dalam era papa saya. Dulu, papa sudah cukup bangga dengan ponsel ulekannya, tapi kini semua ponsel seakan berlomba-lomba menipiskan “body”-nya. Maka mau tidak mau beliau pun membeli ponsel tipis keluaran terbaru. Masalah belum selesai, saat papa bingung tujuh rupa, dengan ditanamnya fitur-fitur canggih di dalam ponsel tipisnya. Ada Java, WAP, Opera, bla bla bla. Mengikuti body tipis, mau tidak mau keypad pun dituntut ramping, bahkan kalau bisa flat dan kecil. Apa yang terjadi dengan pemiliki jari-jari gemuk semacam saya? Wassalam jawabannya.
Uang Ada, Pilih Yang Mana?

Jika ada teman saya yang bertanya apa hal utama yang menjadi pertimbangan dalam memilih ponsel, maka ada beberapa hal yang yang bisa dijadikan notes. Kita simak yuk?

1. Kalau belum gajian, atau rekening belum stabil betul, maka saat ini Anda hanya boleh dalam taraf mengagumi saja. Ini berarti terkait dengan budget yang Anda siapkan untuk membeli ponsel. Apakah di bawah limit 2 juta, 3 juta, atau bahkan di bawah 500 ribu?

2. Jangan berharap ada bebek peking di dalam lontong oncom. Dari budget yang Anda miliki, sekiranya Anda dapat memperkirakan mutu dan keunggulan fitur yang tertanam di dalamnya. Tidak mungkin aja ada menu Opera, WAP, GPRS, dan HSDPA dalam ponsel seharga under 500 ribu?

3. Setelah budget dan model ponsel sudah diperkirakan, maka lengkapi sedikit pengetahuan Anda dengan teknologi dari fasilitas yang terdapat di ponsel. Misalnya dengan mengetahui bahwa WAP dan GPRS berfungsi untuk browsing internet di ponsel, Bluetooth untuk pengambilan dan pertukaran data dan gambar antar ponsel, dan sebagainya. Papa saya bisa dibilang “mati angin” untuk soal satu ini. (Sorry Dad…)

4. Pertimbangkan lagi, bahwa Anda membeli ponsel berdasarkan pertimbangan apa. Estetis dan fungsional menjadi pertimbangan utama dari kebanyakan orang dalam memilih ponsel. Hal ini pun yang nantinya mempengaruhi harga, fitur, aplikasi, dan trend pergaulan Anda. Remember, ponsel kini memasuki revolusi besar dalam perkembangannya. Bukan tidak mungkin dari perkembangan yang ada, akan membentuk komunitas dan trend-trend baru yang mengikutinya kemudian. “Iya lho Jeng..kemarin tuh, aku ngeliat si Anu pakai ponsel slim banget, aduh…mana ada diamond-nya. Ih gaya banget, Bo…” Rumpi kawan saya saat tetangganya pamer Virtu.

5. Perbanyak referensi dan wahana tentang ponsel. Gak mesti sampai mengerti semua spesifikasi njelimet dan segala jerohannya, tapi besar harapan dengan Anda mengerti dari berbagai referensi yang Anda dapat, maka Anda terhindar dari membeli kucing dalam karung.

6. Ponsel lokal memang murah, tapi Anda layak untuk berhati-hati. Pertimbangkan dari segi komponen, service available, harga second-nya yang drop banget, dan kadang fitur-fitur di dalamnya tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Seperti misalnya camera 3MP, tapi ternyata hanya camera sekelas VGA. Kecewa banget kan?

7. Saya pengalaman membeli ponsel inject (nomornya tertanam di ponsel, bukan memakai SIM Card). Saat saya bosan, dan ponsel ini mulai membuat saya banyak mengeluh, saya mengalami kerepotan, saat menjualnya. Karena inject itu tadi. Walhasil, ponsel itu dengan kalemnya tetap bertengger di dalam rak buku saya. Saya sarankan pilihlah ponsel Ruim Card, yang flexible dan mudah untuk digonta-ganti SIM Card-nya. Nah, apalagi sekarang semua provider sedang berlomba-loma menurunkan tariff. Di jaman krismon ini, langkah penghematan wise juga kan?

8. Pertimbangkan ponsel yang memiliki Automatic Keylock. Ada pengalaman yang menyebalkan, antara saya dengan ponsel saya sekarang ini. Sehari-hari, saya selalu memakai celana agak ketat ke manapun. Ponsel itu saya masukkan ke saku celana. Singkat cerita, setelah seharian bertingkah polah ke sana kemari, malamnya saya ingin telpon-telponan dengan pasangan. Aneh bin ajaib, di layar ponsel saya tertera saya melakukan panggilan terjawab dengan telpon interlokal nenek saya di Bandung. Alamak, mau nangis kuda radanya!

9. Pertimbangkan ponsel yang memiliki kenyamanan di genggaman. Ingat, Anda tidak “hidup” sehari dua hari dengan barang ini, bahkan dia bisa menjadi sosok paling intim di dalam kehidupan Anda sehari-hari melebihi pasangan Anda sendiri.

10. Pertimbangkan sekali lagi untuk memakai phone hanger di leher, atau di pinggang. Lagi-lagi saya punya pengalaman tidak mengenakkan dengan phone hanger. Hingga saya harus berkunjung ke kantor polisi Cikini untuk mengadakan Berita Acara Kehilangan, gara-gara posel saya yang menggandul dirampas oleh penjahat. Hiks…hiks…

Well, itulah sekelumit pertimbangan dalam memilih ponsel, yang dimana saya mewakili dari masyarakat awam. Terbatas dari pengetahuan teknis, jerohan ponsel dan lainnya. Tapi setidaknya, saya berharap dari secuil pengalaman saya tadi, bisa memberi pelajaran berharga bagi kita semua, terutama bagi yang berniat membeli ponsel baru. Wah, besok ring…ring…saya pakai ponsel baru ya?

With Love,

Nariswari


Beri tanggapan

Your response:

Kategori