Sang bulan belum terlalu bergulir penuh di atas kepala saya, tatkala kaki-kaki kecil saya melangkah pasti menuju ke sebuah warung tenda di kawasan Senen, Jaka Pusat. Malam itu hujan baru saja mereda, saya berencana menutup ruang kosong di perut saya dengan semangkuk soto kaki Bogor yang panas dan menggugah selera. Berawal dari rasa penasaran, karena suatu kali saat melintas di kawasan Senen, warung tenda yang satu ini tidak pernah sepi pembeli. Rasa menggelitik pun menghampiri saya, karena saya teringat betul wejangan ibu saya dalam resep mencari jajanan di luar rumah, “Carilah rumah makan yang selalu ramai pembeli. Pasti ada keistimewaan di sana.”
Bicara keistimewaan, Warung Soto Bogor Mang Wangsa tidaklah terlalu istimewa. Hanya tenda biasa, dengan empat bangku panjang untuk tempat duduk pengunjung. Terletak di Jl. Raya Kwitang, tepatnya di depan Toko Buku Gunung Agung lama. ” Dahulu kami jualan di kolong sana, sekarang kami pindah ke mari, karena belum lama ada penertiban dari walikota.” Ujar Ibu Wangsa, si empunya, sembari menunjuk ke arah lokasi dagang mereka di trotoar dekat sentra buku bekas Kwitang. Setiap hari usaha yang dibina oleh Pak Wangsa dan istrinya ini dibantu oleh tiga orang pembantunya. Dagangan dimulai pukul 19.00 dan tidak sampai larut malam, soto dagangannya sudah ludes. Memang selain lokasi jualan yang strategis, ternyata soto kaki khas Bogor yang satu ini punya keistimewaan tersendiri, sehingga banyak sekali orang yang menitipkan kepercayaan akan seleranya pada warung soto yang satu ini.
Saya duduk berdua dengan pasangan saya di salah satu bangku panjang. Di meja kami, terhidang acar segar, sambal rebus, dan aneka kerupuk dan emping. Kami memesan dua porsi soto beserta nasi putih. Tidak menunggu waktu lama, di depan kami terhidang semangguk soto kaki yang panas mengepul beserta sepiring nasi putih panas. Seketika aroma soto bersantan menyergap rongga hidung saya. Rasa lapar dan janji kenikmatan tercium betul di wangi soto ini.
Soto yang eksis lebih dari 20 tahun ini ternyata memiliki keunggulan. Selain kuah santan yang panas mengepul, daging kaki-nya pun banyak sekali. Dari tampilan, soto kaki Bogor ini mirip dengan Soto Betawi yang memakai santan. Tapi, daging yang digunakan adalah bukan jerohan, akan tetapi kaki sapi. Kaki yang dipilih pun khusus dari sapi lokal muda yang memiliki daging tebal. Dalam semangkuk soto, lidah Anda akan dimanjakan dengan gurihnya kuah santan di soto, dengan balutan kenyalnya kaki sapi. Selain itu diimbangi dengan irisan tomat segar dan kentang rebus.
Dari segi bumbu kuah soto, tidak jauh berbeda dengan kuah Soto Betawi. Hanya sedikit berbeda pada komponen daging saja. Semangkuk soto beserta nasi putih yang dibandrol Rp.12.000 ini ternyata menarik banyak pelanggan. Terbukti baru saja tenda dibuka, pelanggan sudah mengantri untuk membeli.
Selain menjanjikan keistimewaan pada rasa, soto kaki bogor Mang Wangsa juga tetap menjaga kualitas sotonya. Mulai dari kuantitas dan kualitas kaki, kuah yang mengepul, dan harga yang terjangkau.
Well, kini di saat perut saya lapar dan saya terjebak macet di Senen, saya sudah memiliki rujukan yang pasti untuk memuaskan selera makan saya. Bagaimana dengan Anda?
With Love,
Nariswari
Babe, nulis lagi yang lain dong.
Love
Aditia Patria Warman
Oleh: Adit on 27 November 2008
at 14:32