Oleh: nariswari | 11 Desember 2008

Peluh Di Semangkuk Mie Roxy

Saat mendung seperti ini, tidak lain tidak bukan hanya satu keinginan saya. Mengudap santapan panas mengepul!

Selang beberapa masa belakangan ini, saya mendapat kepercayaan untuk duduk di redaksi majalah gadget ibukota. Salah satu tuntutan saya dalam mencari berita-berita yang terkait dengan ponsel dan gadget, adalah mengunjungi berbagai narasumber di lapangan. Salah satunya di daerah Roxy Mas. Meski bukan saya posisikan sebagai sebuah hobi, meliput ke Roxy menjadi sebuah tuntutan. Paling tidak minimal saya lakukan  dua kali dalam sebulan. Setidaknya, agar saya memahami trend dan pergerakan pasar untuk gadget seperti apa.

Pada suatu kesempatan, saya mendapat penugasan untuk liputan di Roxy Mas. Berangkat dari kantor pada posisi perut kosong karena tidak sempat sarapan. Saat rasa lapar datang, berbagai indera perasa saya menjadi lebih peka. Bayangkan, tersenggol sedikit di bis kota saja, saya sudah pasang tampang angker! He…he…he…

Sesampainya di Roxy Mas, indera pengelihatan dan penciuman, menuntun saya untuk bertandang ke sebuah Rumah Makan Bakmi Roxy. Lebih-lebih, didorong oleh perasaan lapar berat.

Bakmi Roxy ini tidak jauh dari pagar depan Roxy Mas, letaknya kurang lebih 100 meter dari pintu depan. Rumah makan ini memiliki tampilan sederhana relative kecil. Tanpa AC, dan penataan rumah makan ini hamper semuanya terbuat dari kayu.

Tapi nanti dulu. Jangan under estimate dulu dengan tampilan luarnya, ternyata pengunjungnya banyak sekali.

Jadi penasaran, senikmat apa bakmi Roxy hingga mampu menjadi magnet bagi banyak pengujung seperti itu?

Walhasil, saya masuk ke dalam, dan mengambil tempat duduk di pojok. Dengan perasaan penasaran, saya memesan mie pangsit yang ternyata menjadi andalan di rumah makan Bakmi Roxy ini.

Tidak lama pesanan saya datang. Semangkuk besar mie ayam, yang disajikan dengan semangkuk pangsit goreng dan semangkuk kuah kaldu yang mengepul. Alamak…

Segera saja aroma kaldu yang khas bakmi Pecinan menyergap hidung saya. Seketika itu pula rasa lapar datang tanpa diundang.

Saat lidah saya pertama kali mencecap rasa mie-nya, sangat lembut dan gurih. Rasa tepung yang kadang kala mencolok dan dominan pada sajian mie ayam, ternyata tidak saya temukan pada bakmi Roxy. Beberapa sendok sambal rawit saya tambahkan. Selain menguatkan rasa gurih, ternyata memberikan warna oriental sekali pada mie ini. Tapi nanti dulu. Bagaimana dengan kuahnya? Ternyata tidak kalah mantap. Selain panas mengepul, rasa kaldu asli tidak bisa ditipu. Praktis, peluh saya mengucur deras, bukan karena panik atau ketakutan. Tapi karena menyantap nikmatnya kuah panas mie Roxy.

Dengan mengeluarkan kocek kurang dari Rp.20.000 saja, saya sudah puas lahir dan batin. Puas karena kenyang, ditambah dengan perasaan batin yang puas karena kualitas mie yang saya bayarkan worthed alias sebanding.

Nah itu dia, mengapa hingga dua kali saya membujuk pasangan saya untuk makan di sana. Bagaimana dengan Anda?


Beri tanggapan

Your response:

Kategori